Dengan ramainya perbincangan batu akik yang saat ini di buru oleh banyak orang di beragai kalangan tentunya dapat memberi peluang emas untuk berbisnis dan juga memberi kemudahan untuk mendapatkannya bagi orang yang memiliki kesukaan dengan batu mulia ini (batu akik). Maka dari itu, dinas pariwisata Probolinggo membuka inisiatif yang berhubungan dengan banyaknya pangsa pasar batu akik dan juga untuk lebih meningkatkan frekuinsi pengunjung di wisata gunung bromo. Sedangkan pelaksanaan adanya pameran batu akik ini, di selenggarakan pada tanggal 24 s/d 26 april 2015 tepatnya di hall yoshis hotel. Selain batu akik ternyata juga barang antik yang sangat sulit di dapatkan oleh banyak orang. Jarak antara hotel yoshis sekitar 4 klo dengan obyek wisata bromo.
Sehubungan dengan batu akik terhadap masyarakat di lereng gunung bromo adalah mereka memiliki ke percayaan dinamisme dan animisme, yang berkesimpulan mereka mengkoleksi banyak batu akik yang memiliki suatu roh dan kekuatan. Suku tengger sendiri menganut agama hindu yang di sebarkan oleh kerajaan Majapahit. Namun, hindu terngger memiliki perbedaan bila di bandingkan dengan umat hindu pada umumnya, mereka berpegang teguh terhadap ajaran nenek moyang dan kepala suku (mbah dukun). Masyarakat di lereng gunung bromo di juluki dengan suku tengger, di mana julukan tersebut terlahir dari sepasang kekasih yaitu Joko seger dan Roro anteng.
Untuk perbincangkan tentang wisata gunung bromo memang tiada habisnya, selain kebudayaanya dan juga keindahan alamnya karna obyek wisata ini memiliki suatu keindahan alam yang luar biasa dengan berbagai fenomena yang menjadi harapan oleh semua wisatawan yang sedang mengunjunginya seperti roses munculnya marahari terbit dan taburan kabut tebal yang menyelimuti hampatan pasir luas. Untuk melihat fenomena tersebut kita akan dapat melihatnya dari puncak yang berketinggian sekitar 2700 mdpl yang sering di sebut puncak penanjakan.


